Globalisasi Pendidikan, Menristekdikti: Urgensi Bagi Generasi Emas yang Berkualitas

Senin, 29 Januari 2018
img

TrustPolitica.com. Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, terus aktif menyuarakan kebijakan untuk menghadapi globalisasi pendidikan dan revolusi industri 4.0 yang harus dihadapi oleh generasi muda khususnya dunia kampus dan para peneliti Indonesia.

Demikian penjelasan Menristekdikti, Mohamad Nasir, dalam Konferensi Pers di Jakarta, Senin (29/1). Menurutnya, hal ini sudah dibahas dalam acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kemristekdikti di USU, Medan, 16-17 Januari 2018 lalu.

“Urgensi untuk mempersiapkan generasi emas Indonesia yang berkualitas, sehingga mereka menjadi SDM yang kompeten, mampu untuk berpikir inovatif, serta optimum menguasai bidang ilmunya, dan  menerapkannya dalam dunia pekerjaannya, memperbaiki kualitas hidup manusia Indonesia," kata Nasir.

Dalam paparannya mengatakan, lingkungan baru ‘Era Global & RI 4.0 memerlukan kebijakan pendidikan tinggi yang berbeda. Tiga elemen utama yang harus dirubah dalam mengembangkan dunia pendidikan adalah globalisasi, pendidikan, dan lingkungan (Cyber Tech, Internet of Things (IoT), Competition, Cloud Computing, New Technology.

“Dampak positif dari globalisasi mendorong perusahaan multinasional investasi ke negara-negara berkembang yang akan mendorong dan menyediakan lapangan kerja serta keahlian baru bagi penduduk. Pertukaran ide, informasi, pengalaman, dan gaya hidup. Dan globalisasi membuat kesadaran terhadap kualitas lingkungan menjadi lebih tinggi,” paparnya.

Selain itu, meningkatkan efisiensi kerja akibat penyerapan teknologi contohnya tulis tangan yang kemudian berpindah ke mesin ketik, lalu ke komputer lawas lalu berpindah ke komputer modern dan selanjutnya dari segi software.

“Yang perlu diperhatikan juga adalah dampak negatif dari globalisasi di antaranya dapat melemahkan kedaulatan nasional. Jika kurang daya saing, dapat tergerus oleh kekuatan superpower. Globalisasi dapat mengakibatkan hilangnya identitas budaya nasional, dan dapat menimbulkan eksploitasi terhadap negara kurang berkembang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, beberapa disiplin ilmu/ketrampilan yang berkembang dan perlu dikuasai oleh generasi muda, antara lain adalah 'Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), New Materials, Big Data, Robotics, Augmented Reality, Cloud Computing, Additive Manufacturing 3-D Printing, Nanotechnology, Biotechnology, Genetic Editing, e-Learning'.

Berdasarkan evaluasi awal tentang kesiapan negara dalam RI-04, Indonesia diperkirakan sebagai negara dengan potensi tinggi. Adopsi teknologi baru kedalam Revolusi Industri-4, juga ditandai dengan kemampuan SDM untuk melakukan berbagai terobosan inovasi.

“Yang menggembirakan adalah Indonesia masuk dalam kategori Negara yang siap untuk menjalankan Revolusi Industri ke-4 tersebut.  Hal ini merujuk kepada report awal dari “the preliminary 4IR Country Readiness Evaluation, dimana Negara Indonesia dikatakan sebagai kandidat yang potensial dan siap untuk menyambut Revolusi Industri ke-4," tutupnya. (rhr)

Komentar Pembaca