Kerjasama Kemenristekdikti dan IAEA, Teknologi Nuklir Untuk Perdamaian dan Kesejahteraan

Senin, 5 Februari 2018
img

TrustPolitica.com. Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir dan Direktur Jenderal the International Atom Energy Agency (Dirjen IAEA) Yukiya Amano telah menandatangani Pratical Arrangement yang dilakukan di Kantor Kemenristekdikti, Jakarta, Senin (5/2/2018).

IAEA memiliki peran sentral yang penting dalam mendorong penggunaan energi nuklir untuk perdamaian. Indonesia sendiri telah bekerjasama dengan IAEA selama 61 tahun. Tercatat sebanyak 9 dari 17 tujuan pembangunan berkelanjutan berkaitan langsung dengan lingkup kompetensi IAEA.

Menteri Nasir menuturkan, penandatanganan kerjasama tersebut dipandang perlu untuk mendorong kerjasama teknis antara negara-negara berkembang dan penguatan South-South Cooperation (kerjasama antar negara-negara di bagian selatan).

“Tujuan dari penandatanganan ini adalah untuk memperkuat komitmen kerja sama antara Indonesia dengan IAEA dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi nuklir untuk maksud damai,” kata Nasir.

Ia menambahkan, untuk mencapai swasembada pangan dan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), Indonesia dengan dukungan IAEA, telah mengembangkan dua proyek penting, yaitu proyek pertama bekaitan dengan pengintensifkan kualitas produksi kedelai untuk meningkatkan produktivitas dan profitabilitas usaha tani kedelai.

“Dengan adanya penandatanganan ini, Indonesia dapat lebih mendukung IAEA untuk berbagi dan memberikan kapasitas ke negara lain. Ini juga akan memiliki dampak yang berlipat, sesuai dengan mandat utama IAEA untuk mengupayakan dan memperluas kontribusi energi nuklir untuk perdamain, kesehatan, dan kesejahteraan di seluruh dunia,” tuturnya.

Kemudian, proyek yang kedua, katanya, adalah melibatkan penggunaan teknik nuklir, seperti uji radio immuno dan isotop stabil untuk meningkatkan produksi ternak dan memperbaiki pengelolaan pakan berbasis lokal. Sasarannya adalah komunitas petani kecil di 74 SPR (Sekolah Petani Kecil) di seluruh Indonesia.

“Indonesia sangat mementingkan keamanan perbatasan kita dari perdagangan gelap bahan nuklir dan sumber radioaktif lainnya. Beberapa tahun lalu, Indonesia mendapat bantuan dari IAEA dalam memasang empat monitor portal radiasi di pelabuhan utama. Bapeten, bekerjasama dengan Batan dan sektor swsata, berencana untuk memproduksi monitor portal radiasi untuk memenuhi kebutuhan nasional,” paparnya.

Beberapa pengembangan energi nuklir lainnya yaitu Indonesia telah mengembangkan kapasitas dalam produksi radioisotop dan produk radiofarmasi, dan pembuatan peralatan kesehatan, dan Batan telah membangun laboratorium radioisotop dan radiofarmaka baru.

Kemudian Bapeten telah mendirikan I-CoNSEP atau Pusat Kemanan Nuklir dan Kesiapsiagaan Darurat Indonesia. I-CoNSEP adalah pusat keunggulan yang mengembangkan dan mempertahankan kemampuan nasional dalam keamanan nuklir dan kesiapsiagaan darurat melalui pengembangan sumber daya manusia dan penyediaan dukungan teknis.

“Kami menghargai dukungan terus menerus IAEA terhadap upaya Indonesia dalam pengembangan program energi nuklirnya, baik untuk Batan dan Bapeten,” pungkasnya. (rhr)

Komentar Pembaca